BECAUSE AHA IS MY STRONGEST WHY

Nurul Ilmi (Rully), Owner LC Banyuwangi Kota

+62 821-4274-1707

Saya adalah satu dari sekian Sarjana Matematika yang memutuskan untuk jadi ibu rumah tangga setelah menikah. Sebuah pilihan hidup yang ternyata melukai hati kedua orang tua yang notabene mati-matian membiayai sekolah saya. Puncak rasa sakit itu berwujud serangan stroke yang menimpa bapak pasca suami resign dari pekerjaannya sebagai penggiat riba di Astra International Daihatsu Sales Operation dengan alasan sudah tak punya hati menafkahi anak istri dari uang refund lagi. Sebuah keputusan konyol versi keluarga saya. Bagaimana tidak, ketika kami melepaskan segala fasilitas yang salah satunya adalah back up biaya kesehatan kelas 1 di Rumah Sakit terbaik Surabaya untuk operasi sectio caesaria anak kedua berbarengan dengan opname anak pertama saya di bulan yang sama saat suami resign kerja.

Hufffftttt…

Awal serial drama dalam rumah tangga saya sejak memutuskan hijrah ‘alakadarnya’. Drama yang membuat saya mengikuti saran orang tua untuk hijrah ke Banyuwangi dan tinggal di rumah mereka yang ternyata justru membuat hubungan kami ( saya dan orang tua) menjadi merit-semeritnya. Rantas.

Tekanan demi tekanan mewarnai hari-hari panas kami. Orang tua saya ilfil dengan suami karena kebodohannya meninggalkan Astra namun tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Disisi lain, mereka marah pada saya

karena tidak lekas mengirim lamaran pekerjaan sebagai guru yang begitu mereka idam-idamkan karena bersikukuh tetap bekerja dari rumah memproduksi jilbab dan mukena demi bisa terus menjaga anak-anak tanpa repot menitipkannya. Saya takut dosa menelentarkan anak sekaligus dosa membebani orang tua dengan menitipkan anak-anak. Takut sekali. Di sisi lain lagi, kondisi keuangan kami tidak menunjukkan gejala perbaikan. Yang ada justru sisa-sisa perhiasan terkikis satu persatu. Dan sisi-sisi itu dibentur-benturkan hingga hari-hari saya blingsatan.

*Sigh

 

Sampai pada suatu hari, ibu saya pulang dari rumah Pak Iwan membawa sebuah cerita. Intinya, Pak Iwan menawari saya untuk bergabung menjadi instruktur AHA.

Whattttt???

Tentu saja saya membangun tembok tinggi atas tawaran itu. Alasannya jelas. Saya tidak ingin meninggalkan anak-anak!!! Tidaaaakkkk!!!

Namun, saat melihat orang tua saya tidur malam harinya, ada rasa haru yang membuat saya merasa harus mengakhiri kegersangan hubungan kami. Bagaimanapun mereka adalah ibu bapak saya. Bagaimanapun merekalah yang membaktikan banyak waktunya demi melihat saya bahagia. Dan, hubungan saya dengan mereka adalah juga penentu kualitas hidup saya, Kalau mereka terlalu ngotot, sebagai anak, sayalah yang harus mengalah.

Perasaan itu yang membuat saya memberanikan diri meminta ijin suami untuk menerima tawaran Pak Iwan. Dengan niat menyenangkan hati orang tua dan

memperbaiki hubungan, suamipun menyetujui meskipun tetap saja ada pertanyaan “anak-anak bagaimana?”. Pertimbangannya, di AHA saya bisa mengamalkan ilmu saya, berpenghasilan namun masih bisa menghandle anak-anak, demikian penguatan argumen saya. Tak lama, sayapun menemui Pak Iwan untuk menyatakan bersedia bergabung dengan AHA.

Setelah mengikuti training instruktur yang menguras emosi karena Pak Arya membahas masalah hijrah yang berlanjut penjeblosan ke grup Pengusaha Tanpa Riba, hidup saya bagai mendapat guyuran hujan setelah melewati kemarau panjang. Iya, karena keinginan memperbaiki hubungan dengan orangtua, Alloh membuat saya menjadi bagian dari AHA yang ternyata membuka jalan untuk saya tahu bagaimana menghadapi dan menjalani hijrah yang seharusnya. Menuju keberkahan dan keberlimpahan.

Lingkungan yang positif dan kondusif mengintari saya setelahnya. Karena banyaknya asupan energi positif itu, walau tertatih satu persatu keruwetan terurai. Dari membaiknya hubungan keluarga kami dimana sikap orang tua saya berbalik 360° sampai kejutan-kejutan yang mengantarkan saya pada titik sekarang ini. Tantangan baru menghandle sebuah LC di tempat baru yang masih berkecambah. Yang cuma dapat 2 siswa pada pembelajaran pertama bulan lalu. Yang cari instruktur kompeten kayak cari jodoh susahnya. Yang pernah ditolak sekolah. Yang belum mendapat respon meski sudah presentasi. Yang harus kehilangan banner promosi berpajak di pinggir jalan entah karena ulah siapa.

Tapi segelintir siswa saya sekarang adalah anak-anak pilihan. Anak-anak juara dari sekolah yang berbeda. Dari orang tua yang paham benar kenapa harus memilih AHA karena itu memasukkan 2 anaknya sekaligus meskipun yang satu sudah kelas

  1. Bahkan ada siswa olimpiade sekolah paling favorit di Banyuwangi kota yang meninggalkan Kumon untuk masuk AHA. Mungkin ini adalah jalan bagi saya untuk lebih dulu menguatkan bargaining potition. Hehehe..(ngeles)

Jalan mendaki memang susah, tapi arahnya menuju puncak. Terpaan angin untuk menyerah memang dahsyat, tapi obor semangat tetap harus menyala. Why? Because AHA is my strongest why setelah orang tua, suami dan anak-anak saya.

SALAM SPEKTAKULER